
19 October 2010, viewed: 1158 times
Sejak menamatkan studi kedokteran, tak pernah terpikir untuk terikat pada satu institusi rumah sakit. Apalagi membuka layanan praktik di rumah. Karena keputusan tersebut, justru menghambat keinginan dr Sari Mutia Timur mengakses pasien-pasien ‘istimewanya’.
Hampir semua pasiennya dipastikan sangat membutuhkan pelayanan kesehatan. Tak hanya orang sakit namun orang sehatpun menjadi jujugannya. Karena orang yang sehat justru yang harus dibina, diberikan akses informasi agar tidak sakit. Meski untuk menggapai pasien istimewa tersebut, ia harus bergerilya mulai dari daerah terpencil, kawasan bencana hingga menerobos daerah konflik.
Sebenarnya banyak pilihan yang lebih mudah, yakni menjadi dokter bisaa. Toh, tenaga medis selalu dibutuhkan di Rumah Sakit besar. Tapi kemudian putri bungsu Nur Salim dan Lani Puspitasari itu menjawab santai, “Kalau yang ‘nyaman-nyaman’ pasti banyak yang mau mengurusi. Saya urus yang nggak banyak diurusi saja.”
Ditemui MP, Senin (7/6) di kantornya, tenaga medis yang kini bergabung dengan YAKKUM Emergency Unit (YEU) itu mengurai banyak kisah dari bagian Indonesia yang mungkin belum banyak diketahui.
Sepotong cerita ia mulai dari Tsunami Aceh tahun 2004. Bencana tersebut masih sangat terekam dalam benaknya. Maklum, lulusan Kedokteran UGM tahun 2000 dan menyelesaikan S2-nya di Charles Darwin University itu bertugas kurang lebih 3,5 tahun di NAD. Terlebih dampak bencana cukup besar.
Menurut catatan U.S. Geological Survey, korban tewas saja mencapai 283.100 jiwa, belum 14.000 orang yang dinyatakan hilang dan 1,126,900 tidak memiliki tempat tinggal lagi. Solusinya tidak sekadar “membuang” bantuan dan memeriksa pasien, namun bersama Tim YEU ikut mendampingi rehabilitasi.
Lokasi “Seksi”
Dua pekan setelah kejadian 26 Desember 2004 itu, Sari menyusul tim yang sudah tiba di Aceh sebelumnya. Kala itu, keadaan belum kondusif. Lumpur masih mendominasi jalan-jalan. Beberapa nampak kering dan menimbulkan persoalan baru yakni debu. Mayat-pun belum semua dapat dievakuasi.
Sejak awal kedatangan ia hanya fokus terhadap daerah yang belum terakses bantuan sama sekali. Hal yang pertama dilakukan adalah menyisir lokasi yang tepat. Bertanya kepada tiap penduduk lokal yang ditemui. Ia membuka pembicaraan dengan: “Apakah sudah ada tim medis yang datang? Kapan? Oh, baik berarti sudah cukup. Saya pamit.”
Sederet kalimat itu, lebih sering terdengar dari mulut Sari. Ia urung melakukan pelayanan kesehatan. Menjalankan komitmen untuk mencari daerah yang sama sekali belum tersentuh bantuan tidaklah mudah. “Ketika saya tanya, jawaban mereka ternyata sudah ada lima tim medis yang datang dalam satu hari itu. Kalau begitu bukan lagi berlebihan, namun mengerikan. Karena tak satupun dari kelimanya meninggalkan catatan obat yang diberikan. Itu sama saja menjawab bencana dengan bencana lain. Jangan dikira obat itu tidak bisa jadi racun lo,”papar project leader di beberapa daerah terpencil itu.
Ya, persoalan distribusi bantuan memang harus dikaji. Konsentrasi penyaluran bisaanya terpusat. Tapi kasus di sana justru unik. Seperti yang terjadi di daerah konflik, Krueng Raya. Sebelumnya kawasan itu terisolir, hingga berita tersebut tertangkap media. Bantuan kemudian membanjir dari LSM, pemerintah baik dalam maupun luar negeri.
“Agaknya berlebihan. Sebenarnya, masih banyak titik lain yang sangat membutuhkan. Ya, mungkin dianggap ‘seksi’ karena mengundang empati dan sangat strategis untuk seremonial penyerahan atau laporan bantuan. Apalagi ada kamera. Sayangnya kok tidak tepat guna,”sesalnya.
Pengalaman lapangan didaerah terpencil NTT, Pulau Nias sampai Timor Leste sebelumnya membuat Sari tahan banting. Ia bahkan tidak ragu memanggul kotak obat, menapaki bukit dan menemukan lokasi yang sangat membutuhkan. Termasuk beralih ke lokasi konflik.
Sari bersama tim yang beberapa terdiri dari penduduk lokal, bergerak kurang lebih 60 km dari Banda Aceh. Tepatnya menuju Lampanah, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar. Kawasan tersebut juga terisolir, karena masuk dalam zona merah atau wilayah konflik.
Untuk menjangkaunya, harus melewati rute yang berbahaya. Sebelumnya, tak banyak pemukiman yang dilalui. Sementara hanya bukit-bukit tinggi itupun diduduki oleh tentara GAM. Kawasan tersebut terpantau penuh. Siapa saja yang melintas diawasi ketat. Karena itu-lah, tak banyak LSM atau bantuan yang mau dan bisa mengakses lokasi tersebut. Beberapa kode etik relawan-pun ada yang menyebutkan untuk tidak bersinggungan di daerah konflik.
Beruntung kode etik seperti itu tidak diberlakukan YEU. Siapapun pasiennya, diupayakan pelayanan kesehatan atas nama kemanusiaan. “Namun tetap saja, kalau tidak ada bencana mungkin saya tidak bisa masuk. Saat melewati bukit saja, jika terlihat mencurigakan ‘tentara-tentara’ itu sudah bersiaga menembaki kami. Apalagi saat itu kita tidak menggunakan ambulans, melainkan angkot antar desa,” tuturnya bersyukur.
Keadaan masyarakat pengungsian di daerah rawan konflik nyaris tanpa pilihan. Ketika kabar tsunami terdengar di pemukiman yang berada dataran rendah itu, kepanikan terjadi. Nalarnya bukit-bukit itu bisa menjadi tempat aman. “Kalau lari ke bukit banyak yang takut ditembak. Sementara setelah tsunami mereda-pun, mereka juga belum beruntung. Karena ‘lokasi’ mereka terisolir, “terang Sari yang kini menjadi Koordinator Training Center YEU itu.
Artikel ini pernah dimuat di Mingguan MINGGU PAGI No. 11 TH 63 II JUNI 2010.