30 October 2010,
dibaca: 1064 kali Deskripsi singkat situasi
Merapi adalah gunung berapi dengan ketinggian 2,980 meter di atas permukaan laut. Ini
adalah yang paling aktif dari setidaknya 129 gunung berapi aktif di
Indonesia, terletak di empat kabupaten: Kabupaten Sleman di Yogyakarta,
Magelang, Boyolali, dan Klaten di Provinsi Jawa Tengah.
Pada
tanggal 20 September 2010, Tingkat Siaga Merapi dinaikkan dari normal
ke penasehat, dan itu mengangkat kembali ke tingkat tertinggi
(peringatan) pada tanggal 25 Oktober 2010. Pada Selasa, Oktober 26, 2010 pada 18.10 Waktu Indonesia Barat, Merapi meletus dan menyebabkan sedikitnya 32 orang meninggal. Kebanyakan dari mereka adalah warga dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Setidaknya
empat kali letusan dengan awan piroklastik terjadi pada
tanggal 29 Oktober 2010 dan satu letusan besar pada 30 Oktober 2010.
Potensi Risiko / Dampak
40.000
orang dalam zona 10 km di daerah rawan tersebar di Klaten, Sleman,
Magelang, dan Boyolali harus dievakuasi dan menjadi pengungsi. Masalah kesehatan mengancam para pengungsi di barak pengungsian setelah 3 hari letusan. Beberapa anak-anak, wanita, dan orang tua menderita demam, trauma, dan flu biasa. Beberapa
daerah di Magelang, Sleman, Boyolali, dan Klaten membutuhkan perhatian
lebih untuk bantuan, terutama masker, pakaian dan stok pangan untuk
anak-anak dan bayi, pembalut wanita, dan lain-lain. Advokasi Koordinasi antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan tokoh masyarakat harus dikembangkan segera. Badan
kesehatan diharapkan untuk membangun koordinasi antara pihak-pihak yang
terlibat dalam tanggap darurat untuk letusan Merapi untuk menghindari
masalah kesehatan yang serius untuk pengungsi sementara letusan masih
berlangsung. Di
Kabupaten Sleman, ada satu pos komando di Pakem kantor kecamatan dan
daerah evakuasi 8 di Kepuharjo, Umbulharjo, Wonokerto, Glagaharjo,
Purwobinangun, Hargobinangun, Wukirsari, dan Oasis Bencana - di bawah
koordinasi dengan otoritas Hargobinangun. Ada kurangnya perhatian terhadap Wukirsari, Wonokerto, dan barak Purwobinangun. Respon Nasional dan Lokal Pemerintah Indonesia telah menyatakan keadaan darurat untuk Erupsi Merapi 2010. Pemerintah Kabupaten Magelang telah menyatakan 30 hari tanggap darurat terhadap letusan Merapi. Pemerintah Kabupaten Sleman telah menyatakan 14 hari tanggap darurat terhadap letusan Merapi. Pemerintah desa Hargobinangun sigap untuk membangun barak pengungsian, seperti di Hargobinangun, Umbulharjo, dan Pakem. Pemerintah
juga telah dilengkapi area evakuasi dengan jamban, air bersih, dan
fasilitas logistik, tetapi beberapa masih terbatas. Pemerintah
Desa Hargobinangun telah membangun koordinasi dan komunikasi dengan
lembaga kemanusiaan erat untuk mengakomodasi pengungsi.
Respon YEU
YEU
membangun koordinasi dengan Pemerintah Desa Hargobinangun, Pakem,
Sleman dan Sidorejo desa, Kemalang, Klaten untuk membantu para
pengungsi. YEU melibatkan Organsisasi Rakyat tanggap Bencana (ORA) untuk menangani pengungsi. YEU bekerja sama dengan Tagana SAMPOERNA dan menyediakan makanan untuk pengungsi di Disaster Oasis. YEU
bersama dengan SAMPOERNA dan GKJ Sawo Kembar membangun manajemen kamp
dilengkapi dengan perlengkapan kesehatan dan kebersihan, dapur darurat,
dan fasilitas jamban di Oasis Bencana, Hargobinangun, Pakem, Sleman
untuk mengakomodasi 500 pengungsi. YEU
telah memberikan pelayanan kesehatan di Srumbung, Magelang, Sleman, dan
Kabupaten Klaten didukung oleh Bethesda Hospital dan Rumah Sakit PANTI
WILOSO. YEU
telah mendistribusikan barang-barang sebagai berikut: minyak kayu putih
9 di DIOS, Sanitary serbet 5 pak di DIOS, Pampers untuk bayi 7 paket di
DIOS, tikar 124 lembar Tidur di Sawangan dan DIOS, Masker 1500 di
Sawangan potongan dan DIOS, air mineral 30 kotak di DIOS, dan Selimut 165 di DIOS.