Home | About Us | Our Program | Our Gallery | Our Partner | News & Training | Story & Article
NEWS
YEU Response to Sinabung Erruption
Rabu, 1 September 2010, 10:18 WIB

On Sunday, 29 August 2010; Mount Sinabung in Karo district, North Sumatra erupted and forced more than 27.000 people to flee from their houses.

Viewed 21 times

go to index ...
TRAINING
HAP Workshop, Hotel Harun Square, Lhokseumawe, 22 - 25 May 2010
Sabtu, 22 Mei 2010, 08:00 WIB

HAP (Humanitarian Accountability Partnership) Workshop, attended by 23 staffs from YEU Lhokseumawe, YEU Padang, and YEU Yogyakarta and facilitated by Janaki Kuhanendran (Christian Aid), introduces humanitarian accountability system to YEU's staffs to meet capacity and accountability standardization.

go to index ...
PRODUCT CATALOGUE

 

Click here for more product ...
Rehabilitation


ASEP DAN PLASTISIN

Saya bekerja sebagai seorang relawan untuk pendampingan psikologi anak-anak korban gempa bumi di Bantul, Yogyakarta. Saya mengelola sebuah children centre di dukuh Ngirengireng, kecamatan Bambanglipuro. Setelah hampir tiga bulan terlibat di daerah tersebut dan berkumpul dengan anak-anak di sana, banyak kisah menarik yang saya dapat seperti berikut ini.

Hari ini, seperti biasa saya berada di Ngirengireng. Jadwal kegiatan hari ini adalah menyanyi. Saya datang bersama seorang guru menyanyi. Ketika saya tiba, saya menemui suatu pemandangan yang membuat hati saya bergetar karena begitu senangnya. Jadi begini kisahnya.

Kemarin saya memberikan kegiatan membuat plastisin bersama anak-anak. Sebenarnya kegiatan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak yang masih duduk di bangku SD, namun karena membuat plastisin merupakan hal baru bagi mereka, anak-anak yang lebih besar pun ikut datang. Anak-anak yang lebih besar tersebut adalah anak-anak lelaki yang duduk di bangku SMP. Salah satu dari mereka bernama Asep. Luar biasa usilnya mereka ini. Kegiatan membuat plastisin sempat berubah menjadi perang tepung. Asep dan teman-temannya suka sekali menggoda anak-anak SD, terutama yang perempuan. Suara teriakan anak-anak membahana dan cukup membuat saya pusing memikirkan cara bagaimana mengatasi situasi ini. Saya mencoba berbicara dengan anak-anak SMP, namun rupanya pembicaraan saya seperti membentur tembok. Mereka tetap saja menggoda anak-anak perempuan, akibatnya children centre menjadi sangat bising dan kotor oleh tepung.

Proses membuat adonan plastisin pun berakhir dan dilanjutkan dengan membentuk adonan yang sudah jadi tersebut; meskipun demikian, kekacauan terus berlanjut. Asep dan lainnya secara sengaja mengambil adonan plastisin tanpa izin dari anak-anak perempuan. Benar-benar kacau. Saya hanya berusaha mengingatkan anak-anak perempuan untuk mengabaikan perilaku anak-anak lelaki tersebut. Saya mencoba berdamai dengan anak-anak lelaki dengan mengajak mereka untuk ikut terlibat dalam pembuatan plastisin, namun mereka menolak. Saya sudah menawarkan bahan-bahannya, tetap mereka mengatakan tidak mau. Rupanya mereka lebih senang membuat kekacauan. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Dengan susah payah, anak-anak perempuan mampu membuat beraneka bentuk dari adonan yang telah mereka buat. Kemudian saya menyarankan mereka untuk menjemur hasil karya mereka di bawah sinar matahari. Sekali lagi, anak-anak lelaki membuat kegaduhan. Hasil karya anak-anak perempuan yang sedang dijemur, diambil dan disembunyikan. Saya harus mengejar mereka satu persatu untuk meminta mereka mengembalikan apa yang mereka ambil.

Akhirnya saya dan anak-anak perempuan berjaga di sekitar hasil karya yang dijemur di bawah terik matahari selama kurang lebih satu jam hanya untuk menghindarkan dari penjarahan yang dilakukan anak-anak lelaki. Hanya itu cara yang bisa saya lakukan agar hasil karya mereka. Melelahkan.

Setelah hasil karya tersebut benar-benar kering, saya menemukan kesulitan untuk membuatnya tetap awet, mengingat bahan baku plastisin tersebut adalah tepung dan air yang mudah sekali berjamur bila berada di kondisi yang lembab. Cara yang bisa dilakukan adalah melapisinya dengan plitur. Namun siapa yang akan melakukannya. Saya tidak mungkin meminta anak-anak perempuan untuk melakukannya karena saya melihat mereka sudah lelah, terlebih-lebih bahan untuk melapisi plastisin pun belum ada. Selain itu, saya dan anak-anak harus membersihkan children centre yang sangat kotor.

Entah bagaimana kemudian saya mendapatkan ide ini, namun saya berpikir tidak ada salahnya saya mencoba. Bila gagal, saya bertekad untuk melakukan ide saya seorang diri esok hari. Dari sekian banyak anak lelaki yang ikut membuat kegaduhan, saya teringat akan Asep. Asep merupakan anak sulit. Anak yang paling sulit mungkin. Saya masih belum bisa menemukan cara untuk membuatnya mau bergabung dengan kegiatan yang saya lakukan. Asep hanya mau datang dan mengganggu. Tidak ada lagi hal yang dia lakukan selain hal tersebut. Saya ingin mencoba memberinya sebuah tanggungjawab. Saya memintanya mengkoordinir anak-anak lelaki yang lain untuk melapisi hasil karya yang ada. Saya berkata, ”Sep, plastisin-plastisin ini mudah sekali berjamur. Cara yang bisa kita lakukan untuk menghindarkannya dari jamur adalah dengan melapisinya dengan plitur. Mbak Toetiek sudah terlalu lelah untuk melakukannya sendirian. Jadi mbak Toetiek akan sangat senang jika kamu mau membantu mbak untuk melapisinya.” Asep menjawabnya dengan bahasa Jawa, ”Ora ono pliture, mbak. Aku males yo’an. (Tidak ada pliturnya, mbak. Lagipula saya malas.)” Namun saya masih ngotot untuk memintanya lagi karena saya percaya Asep mampu melakukannya. ”Ini ada uang untuk beli plitur dan kuas. Mbak Toetiek percayakan ini ke kamu. Mbak yakin kamu bisa melakukannya.” Saya memberikan uang kepada Asep, dia menolaknya dan malah menyuruh saya untuk memberikan saja uang tersebut pada anak yang lain. Saya mengikuti apa yang dia mau. Saya memberikan uang pada anak yang lain sambil berkata, ”Terserah siapa yang pegang uangnya, tapi mbak Toetiek percayakan tanggungjawab untuk melapisi plastisin-plastisin ini ke kamu, Asep. Sekarang mbak mau pulang. Sampai bertemu besok dan sekali lagi, mbak Toetiek yakin kamu bisa melakukannya.” Kemudian saya pun beranjak pulang dengan ketidakyakinan bahwa Asep akan melakukannya mengingat selama ini saya tidak pernah berhasil membuatnya untuk mengikuti permintaan saya. Namun saya berpikir, tidak ada salahnya mencoba.

Hari ini, hari dimana saya menemukan kejutan ini. Ketika saya datang, saya melihat plastisin-plastisin yang kemarin dijemur, kembali dijemur di halaman dengan kondisi sudah dilapisi plitur! Perasaan saya sangat susah untuk diungkapkan. Di dekat plastisin-plastisin ada kaleng plitur dan kuas namun saya tidak menemukan Asep. Saya yakin bahwa Asep yang melakukan hal tersebut. Keyakinan saya diperkuat ketika saya bertanya pada salah seorang anak siapa yang melakukannya, anak tersebut mengatakan bahwa ia melihat Asep sedang melapisi plastisin tersebut dengan plitur sebelum saya datang. Kemudian saya bergegas untuk mencari Asep. Dengan meminjam sepeda milik salah satu anak yang hadir, saya pergi menuju rumah Asep. Saya menjumpai Asep berada di halaman depan rumahnya yang rata dengan tanah. Sebelum dia berkata apa-apa, saya berkata, ”Sep, terimakasih banyak ya sudah mau membantu mbak melapisi plastisin-plastisin kemarin. Mbak benar-benar berterimakasih.” Kemudian saya kembali menuju children center untuk melanjutkan kegiatan bersama anak-anak yang lain. Saya bersepeda sambil tersenyum mengingat apa yang sudah dilakukan Asep.
Anak-anak memiliki cara mereka sendiri untuk memberikan kejutan yang menggembirakan bagi orang dewasa. Mungkin saya perlu belajar lebih banyak untuk mengetahui cara-cara mereka melakukannya. Mereka mungkin ada kalanya membuat saya pusing dan lelah, namun mereka lebih sering membuat saya merasa bahagia. Bagaimanapun juga, apa yang telah dilakukan oleh Asep membuat saya bertambah yakin bahwa mereka menerima kehadiran saya dengan hati mereka. Hal tersebut membuat saya merasa bahwa mereka mencintai saya sama seperti saya mencintai mereka. Kisah-kisah seperti ini lah yang membuat saya mencintai pekerjaan saya dan menjadi motivasi sebagai seorang relawan.()

Toetiek Septriasih
Relawan Mental Health YEU di wilayah Ngireng-ireng, Bambanglipuro, Bantul, DIY

Click for bigger image Click for bigger image Click for bigger image
Home | About Us | Our Program | Our Gallery | Our Partner | News & Training | Story & Article | Contact Us | FAQs
Copyright © 2007. Yakkum Emergency Unit. All Rights Reserved.