 |
 |
| NEWS |
YEU Response to Sinabung Erruption
Rabu, 1 September 2010, 10:18 WIB
On Sunday, 29 August 2010; Mount Sinabung in Karo district, North Sumatra erupted and forced more than 27.000 people to flee from their houses.
Viewed 33 times
go to index ...
|
 |
 |
| TRAINING |
HAP Workshop, Hotel Harun Square, Lhokseumawe, 22 - 25 May 2010
Sabtu, 22 Mei 2010, 08:00 WIB
HAP (Humanitarian Accountability Partnership) Workshop, attended by 23 staffs from YEU Lhokseumawe, YEU Padang, and YEU Yogyakarta and facilitated by Janaki Kuhanendran (Christian Aid), introduces humanitarian accountability system to YEU's staffs to meet capacity and accountability standardization.
go to index ...
|
 |
|
 |
 |
| STORY |
 |
Meraih Kembali Kehidupan
Rabu, 11 Juli 2007, 13:38 WIB Viewed : 1357 times
Sekilas, tak ada yang tampak aneh dari rumah itu. Warnanya catnya krem, bersebelahan dengan tembok bata yang belum terlapis semen. Di depan rumah ada sebuah kolam lele yang terlihat seperti bak mandi, namun lebih besar dan lebih tinggi.
Di dalam kolam itu ratusan bayi-bayi lele menunggu dengan sabar untuk kunjungan Bu Saliyem; sebuah kunjungan yang akan membebaskan mereka dari rasa lapar.
Tanpa harus berdiri, Bu Saliyem menaburkan makanan lele ke kolam itu. Bukannya malas, tapi memang karena ia sudah tak mampu lagi berdiri. Sejak gempa yang melanda Yogyakarta setahun silam, Bu Saliyem kehilangan kemampuan untuk menggerakkan kakinya. Tulang belakangnya patah. Dan memaksanya terikat pada kursi roda.
Rumah yang dihuninya sekarang, walaupun tidak jauh berbeda dari rumah kebanyakan, namun memiliki fasilitas khusus yang membuat Bu Saliyem lebih leluasa berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya meskipun dengan kursi roda. Kamar mandinya lebih luas dan tidak berpintu, supaya dia lebih leluasa keluar masuk, ketinggian meja dapur pun diatur sedemikian rupa. Perbedaan tinggi di tiap ruangan diatasi dengan menggunakan lerengan, pintu-pintu pun dibuat lebih lebar dari pintu rumah biasa.
Ketika berkunjung ke rumahnya, kami pun disuguhi kehangatan luar biasa dari keluarga ibu Saliyem. Suami dan putrinya pun ikut menemani, sementara anak lelakinya belum kembali dari sekolah. Beliau pun mulai bercerita tentang perubahan hidupnya semenjak gempa melanda setahun yang lalu, 26 Mei 2006.
Selama tiga bulan pertama semenjak gempa, Bu Saliyem tidak pernah keluar kamarnya. Beliau sempat dirawat di rumah sakit negeri selama beberapa minggu untuk mengobati luka-lukanya, namun kemampuannya berdiri, berjalan dan menggunakan kedua kakinya musnah sudah. Beliau lumpuh dari pinggang ke bawah. Ketika itu, Bu Saliyem tinggal bersama ibunya, meninggalkan rumahnya yang hancur di dusun Ngireng-Ireng desa Sidomulyo. Namun keputusannya itulah yang kelak mengakibatkan dirinya tidak terdaftar sebagai penerima bantuan pemerintah yang disalurkan melalui RT. Di rumah ibunya, Bu Saliyem tidak pernah keluar rumah, keluar kamar pun hampir tidak pernah. Ia tidak mempunyai kursi roda sehingga sehari-harinya ia hanya terbaring di kasur. Ia tidak memiliki semangat hidup, hanya menghabiskan setiap hari dengan melamun dan meratapi nasibnya, belum mampu menerima keadaannya.
Ketika tim YEU pertama kali mencari ibu Saliyem dan menawarkan pengobatan dan terapi untuk kelumpuhannya, bu Saliyem terkejut, namun akhirnya beliau bersedia untuk menerima perawatan dari tim mobile clinic dan physiotherapy, bahkan bersedia dibawa ke Pusat Rehabilitasi YAKKUM untuk mempercepat kesembuhannya dan aktivitas kesehariannya.
Sepulang dari PRY, Ibu Saliyem mulai kembali tinggal di rumahnya di dusun Ngireng-ireng, yang telah diperbaiki seadanya dengan kayu-kayu sisa bekas rumahnya dulu. BU Saliyem pun juga mendapat kursi roda untuk membantu mobilitasnya. Ketika mendengar bahwa YEU akan membantu membangunkan rumah untuknya, ibu Saliyem sangat bersemangat, apalagi pada saat itu, setiap minggu dirinya berkumpul dengan beberapa penderita cacat sepertinya yang juga dirawat oleh mobile clinic YEU.
Berkat perkumpulan setiap minggu itulah, Bu Saliyem pelan-pelan memperoleh kembali semangat hidupnya, memberinya kesempatan untuk keluar dari rumah, bertemu dengan orang-orang liain yang juga memiliki masalah yang sama. Sembari menunggu giliran perawatan luka dan physioterapy, Bu Saliyem bercakap-cakap dengan pasien lain, berbagi pengalaman dan saling memberi kekuatan bagi satu sama lain. Memberi kesadaran pada masing-masing pihak bahwa mereka tidak sendiri, kemajuan masing-masing menjadi semangat bagi yang lain, baik kemajuan dalam kesembuhan dan juga keleluasaan dalam aktivitas sehari-hari.
Perkumpulan itu pun menjadi lebih erat setiap harinya, dan kemudian terbentuklah perkumpulan yang menamakan dirinya Hikmah Gempa, berdasarkan kemampuan mereka sekarang untuk menarik hikmah di balik kejadian yang memilukan tersebut.
Ketika kemudian ada rencana dari YEU untuk memberikan bantuan modal kecil untuk usaha, Bu Saliyem dan anggota Hkmah Gempa yang lain bertambah semangatnya. Masing-masing mulai memikirkan usaha apa yang akan cocok digeluti. Namun Bu Saliyem sudah mantap dari awal, akan kembali menggeluti usaha perternakan lele, seperti ketika ia belum memakai kursi roda.
Setelah dinyatakan layak untuk membuka usaha pternakan lele oleh tim dari PRY, Bu Saliyem pun mulai menerima bantuan modal, dengan modal tersebut ia membangun 2 kolam lele, dan membeli bibitnya. Suaminya pun kini membantunya mengurus kolam-kolam lele itu, suatu hal yang menurut Ibu Saliyem, tidak pernah dilakukan suaminya dulu.
Setahun setelah gempa bumi melanda tempat tinggalnya, Bu Saliyem kini telah memperoleh rumah tinggal yang layak huni dan juga usaha sendiri yang dapat membuatnya merasa berguna bagi keluarganya. Ia selalu menjadi tulang punggung keluarga dan kehilangan kemampuan ntuk berjalan pun tidak lagi menyurutkan semangatnya untuk menghidupi keluarga.
Setiap kali ia memberi makan lele-lele miliknya, ia selalu tersenyum gembira, menantikan saat yang tepat untuk memanennya. Rencananya, pada bulan Juli 2007, ia akan memanen 2 kolam lele, berisi ratusan lele dewasa yang gemuk. Untuk itu, ia tidak akan melakukannya sendiri, selain dibantu oleh suami dan putranya, ia pun akan juga mempekerjakan tetangganya.
Selain mengurus peternakan lele miliknya, is pun juga sehari-hari melatih kemampuan gerak kakinya. ”Saya masih ingin bisa berjalan lagi. Saya percaya saya bisa berjalan lagi suatu saat nanti,” ucapnya dalam bahasa Jawa sambil memperlihatkan dengan bangga bahwa ia sekarang sudah dapat berdiri, walaupun dengan susah payah.
Bu Saliyem tekun berlatih berdiri dan berjalan, sesuatu yang tampak aneh dilakukan oleh orang seusianya. Namun demikian, benar-benar tidak aneh jika seorang hanya ingin berusaha meraih kehidupannya kembali, seperti halnya Ibu Saliyem. (adn)
(admin)
Previous story :
- Living on Shaking Ground: Reducing Risks in Indonesia
Jum'at, 18 Juni 2010, 13:40 WIB
- Yadi, Seeds of Hope
Kamis, 19 Februari 2009, 09:30 WIB
- Clinic and Laboratory without Wall
Rabu, 24 September 2008, 11:54 WIB
- Yafati Gea: My Story Told
Rabu, 11 Juli 2007, 13:32 WIB
- Enaknya Jadi Kader YEU
Selasa, 26 Juni 2007, 10:46 WIB
|
 |
|
 |